Kerja Gak sih gw??

September 9th, 2007 by asaasputra

Suatu hari, seorang teman gw nanya ke diri gw, " Lo ngerasa kerja gak sih?", "Bagi gw, kerja (mencari nafkah) …ya, layaknya seperti orang kantoran. Pergi pagi pulang sore.." Ungkapnya lagi…

Dzeigh!!!… kayak dihunjam belati rasanya hatiku… hmmm… so, gw kerja gak sie?? Baiklah, mungkin ini adalah pertanyaan yang sering dirasakan bagi teman- teman yang mencari nafkahnya dibidang bisnis, entreperneur atau bahkan serabutan…ato emang pengangguran heheheh.

Dulu Emak gw adalah orang yang paling me - complaint ketika gw memutuskan hidup untuk tidak mencari pekerjaan dengan sungguh-sungguh. Ada banyak faktor ketika gw memutuskan untuk terjun didunia bisnis. Bahkan hingga saat ini boleh dikatakan bisnis gw belum memiliki platform yang pasti, artinya 2 - 3 ato 4 tahun kedepan gw gak kan terus bertahan. Namun, secara bertahap gw udah mulai menyusun strategi dan planning bisnis gw (bukan yang saat ini berjalan) yang lebih mengarah ke produksi dan mengandalkan jumlah SDM dan teknologi. Ada perlu banyak pembelajaran memang, dan amat sangat menyita waktu dan tenaga. Faktor tersebut adalah ;

- Pengalaman kerja pada beberapa perusahaan kecil ketika masih kuliah
- Pergaulan 
- Cara memandang kehidupan dalam mencari nafkah
- Agama yang gw anut

Emak gw memandang pendidikan adalah jalan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Pendapat beliau benar adanya, contoh sederhana abang gw sendiri. Abang gw adalah contoh sederhana seorang anak yang menjadi impian orang tua. Rajin belajar, gak bikin masalah, taat agama, IPK cum laude, pekerjaan menjanjikan masa depan yang gemilang (salah satu perusahaan Telco terbesar di negeri ini), rumah pribadi, kendaraan pribadi, bahkan istri pun didapat dari emak gw!, lo bisa bayangin dunkz kenapa emak gw eneg banget ama gw.. kalo diriku dan diri abang ku dilakukan studi komparatif… hehehe.. secara fisik gw item, gendut, dan dia putih, atletis, fotogenic… wakakakakaka…

Kembali kesoal faktor- faktor tadi, untuk faktor pertama "Pengalaman kerja pada beberapa perusahaan kecil ketika masih kuliah" gw melihat, ketika gw bekerja pada perusahaan kecil tersebut relationship dan koneksi antara karyawan dan owner adalah direct, artinya keputusan, gaya bisnis, pola pengembangan dan kultur perusahaan langsung dikembangkan oleh sang owner. Artinya, usaha tersebut amat sangat tergantung dengan si owner tersebut. Biasanya pendelegasian tugas gak jelas, otorisasi setiap orang pun saling tumpang tindih. Bisa dikatakan semau gw, saat itu gw berfikir, some day I’ll develop my own company and make it better! Ya, 7 tahun kemudian, gw menyempatkan diri menjenguk para mantan-mantan bos gw, hanya 1 orang yang gw perhatiin mengalami kemajuan pesat. Sisanya bertahan dengan kemampuan yang ada alias stack. Walaupun secara financial mereka bagian dari kelas menengah atas, tapi bagi gw bisnis adalah mengembangkan ekonomi, memberikan lahan pekerjaan dan meningkat kan ekonomi secara keseluruhan.

Yang kedua soal pergaulan, mungkin gw bukan tipikal awamnya mahasiswa. Jaman mahasiswa gw suka nongkrong dipasar, ya kebetulan kontrakan gw pas dibelakang sebuah pasar tradisional. Teman-teman bermain catur gw (dipos ronda hehehe,gw suka ngerokok dan abang gw anti ama rokok, jadinya gw ikutan ronda biar bisa ngerokok wakakakaka..)adalah para pedagang pasar, teman maen badminton. Bahkan teman dimasjid (ketika sholat) adalah para pedagang, mulai dari ustad, kebanyakan dari mereka adalah bapak-bapak yang banyak memberikan semangat kepada diriku. Dari keluargaku aku sangat dekat dengan Paman ku (sepupu ayahku), Adik Nenekku, Kakak sepupuku yang mereka adalah para pengusaha yang tangguh yang menjadi salah satu inspirasi ku. Bahkan beberapa teman masa kecilku juga melakukan hal yang sama, berbisnis… dan kami selalu melakukan kontak.

Faktor berikutnya adalah cara memandang kehidupan mencari nafkah. Gw amat sangat percaya bahwa tanpa harus mengikuti gaya orang-orang pada umumnya, finding a job... gw bisa hidup kok. Mencari kerja, berkarir pada perusahaan besar, jaminan kesehatan, jaminan hari tua dll… gini aja.. dengan cara seperti ini boleh dibilang pendapatan gw udah cukup lumayan dibanding teman-teman gw yang seumuran gw, dengan pekerjaan mentereng. Soal gaji, gw sih emang gak beberapa lebih dari mereka, soal jaminan kesehatan, toh diri gw dah gw asuransiin, soal jaminan hari tua.. gw ikutan tabungan berjangka?? hayoo… smuanya tergantung gw.. dan gw senang ketika gw bisa nentuin diri gw.. dan gw gak pernah menyesalkan keputusan yang gw ambil dan telah gw pertimbangkan.. GW LAKI-LAKI prinsipnya.. smua idiom yang menyertai laki- laki, komit, percaya diri, disiplin, adventurer, gentlemen, apalagi hayoo..gw jalanin dah! hehehe…tapi satu yang tetap mesti gw jalanin dan masih gw berusaha mempelajari dan mengamali.. sabar, syukur dan ihklas..

Agama yang gw anut…, Islam. Gw gak kan bahas dalam bahasa keagamaan yang biasanya disertai dengan sumber hadist ato dalil2 Al-Qur’an. Tapi gw akan memaparkan dalil-dalil yang biasa kita dengar, artinya secara umum dapat di "iya"kan tanpa harus diperdebatkan, soalnya ustad dah sering ngocehin masalah ini dimasjid. Pertama, nabi pernah bilang "pekerjaan yang paling mulia dimuka adalah menajadi pedagang, " berikut nya "9 dari 10 pintu rejeki ada dalam dunia perniagaan" lalu nabi adalah seorang pengusaha, sahabat yang paling kaya zaman nabi adalah pengusaha… abu bakar contoh pengusaha sukses.. syiar Islam tak lepas dari campur tangan Siti Khadijah yang notabene adalah pengusaha kemudian hadist (perawinya lo hunting sendiri dah!)"Allah sangat mencintai hambanya yang kuat (fisik & finansial) dari pada hambanya yang miskin". So jelas bukan??? gw yakin kok, rejeki, jodoh, dan mati ditangan Allah, smuanya sudah ditakdirkan.. tapi ingat, pembahasan soal takdir adalah pembahasan yang dilarang dan jarang dibahas dalam agama Islam. Ilmu takdir baru dikeluarkan ketika masuk kedalam tatanan ikhlas dan menyerah kan segalanya kepada Allah setelah segala daya dilakukan alias tawakal.. so jelas kan semuanya…

Kembali kepertanyaan awal " Lo ngerasa kerja gak si?… gw jawab Ntar deh,suatu hari nanti sebenarnya gw pengen kerja jadi GURU…oh ya..buat yang nanya "jangan nanya begitu nape??? kayak emak gw aja…hehehe"

Cerita Masa Kecil Ku (III)

August 31st, 2007 by asaasputra

Oh ya, seperti yang telah aku ceritakan sebelumnya, bahwa aku tinggal di sebuah kota kecil dipesisir utara pantai sumatra. Daerah yang cukup panas, dan karena terletak pada dataran rendah dan ditepi pantai.

Rumahku memiliki halaman yang cukup luas, sekitar 30x 50m. Cukup lega memang, dihalaman belakang rumah ibuku menanam cabe, jagung, singkong, pisang, mangga, kelapa, jambu biji (kami menyebutnya perawas), jambu air, rambutan, pepaya, tebu, daun pandan, lengkuas, jahe, serai, kumis kucing, kunyit dll (aku baru sadar sekarang kalau halaman belakang rumah ku cukup banyak tanaman). Sedangkan dihalaman depan ayah ku suka menanam bunga, melati, mawar, anggrek, kamboja, sedap malam, dan banyak jenis bunga yang aku tak begitu hapal namanya. Halaman samping kanan rumahku, sudah aku garisi (niatnya si supaya gak ditanamin hehehe) buat lapangan badminton. Waktu itu usiaku masih sekitar umur 5 tahunan. Saat itu aku lagi senangnya bermain badminton. Oh ya, di komplek rumah ku tepat nya di satu blok dibelakang rumah ku terdapat lapangan badminton. Tapi aku dan teman-teman seusia ku tidak diperkenankan oleh bapak-bapak komplek kami untuk turut serta bermain badminton. Akhirnya dengan sengaja aku"tek"halaman samping rumah ku untuk kepentingan aku dan teman-teman ku bermain badminton. Namun sayangnya, kock nya sering nyangkut diatap rumah. Bila kock nyangkut, aku akan kebagian memanjat atap rumah melalui tiang anttena tv, waktu yang dibutuh kan sekitar 5 menit. Karena kock sering nyangkut diatap rumah kadang-kadang aku tak kebagian maen, cuma nunggu kock nyangkut diatap. Soalnya kalo naek turun terus kaki ku pegal. Walhasil aku cuma jadi ball boy.. Tapi aku cukup bangga, karena diantara teman-teman ku di sekitar komplek ku cuma aku yang memiliki nyali memanjat hehehe… yang lain?? seng ada lawan…Satu cuma yang aku takutkan kalau sudah berada diatas atap, ayah ku pulang! Alamat pasti di libas pake ikat pinggang.. ato sapu lidi….

Selain bermain badminton aku juga hobi bermain layangan. Untuk urusan yang satu ini ayah ku adalah orang terbaik dalam membuat layangan. Mulai dari layang hias (kami menyebutnya layang darat) sampai layang yang cuma berbentuk persegi. Layangan buatan ayahku sangat gampang diterbangkan, berbeda bila aku membuat sendiri. Cerita soal layangan, aku memiliki sobat masa kecil yang cukup kreatif yang hingga saat ini blom bisa kutiru, namanya Suyat, entah mengapa ibuku menyebut nama nya Kiat walaupun sudah berkali-kali aku ingatkan nama sebenarnya bocah ini, namun ibu selalu memanggilnya dengan nama yang salah. Suyat dari keluarga yang tidak begitu memiliki, boleh dibilang susah. Sangking susahnya kadang-kadang bajunya sobek dan gak dijahit, atau kalau aku ikut makan dirumahnya kami cuma makan kerupuk, nasi ditambahin garam dan kecap. Kami cukup dekat bahkan sangat dekat, jika dirumah aku jarang mau makan, dirumah Suyat aku bisa makan dan nambah, hehehe, jika kupikir2 kok tega2 nya ya aku. Oh ya, ibu Suyat bekerja sebagai tukang cuci pakaian, menyeterika, membersihkan rumah penduduk komplek ku. Sedangkan Ayahnya seorang petani sawah tadah hujan, kadang-kadang berladang.  Kembali kesoal kreatifitas, walaupun Suyat tidak memiliki uang untuk membeli layangan atau membuat layangan, namun dia bisa membuat layangan dengan bingkai lidi dan bahan dari kantong kresek!! dan kerennya bisa terbang…. Dari Suyat aku belajar membuat benang gelasan, membuat mariam dari kaleng, membuat ketapel dan cara menggunakan nya.

Selain Suyat, teman-teman sepantaran ku disekitra rumahku adalah Ade (sekarang menjadi saudagar kain di Tenabang Jkt), Bukit (Depkeu Direktorat Pajak di Medan) Otto (HSBC jakarta), Ibob (Staff Dinas Pertambangan & Energi Pemprov Riau), Jaya(Staff Zona Industri Dumai), Oon (Staff Dinas Pekerjaan Umum Pemkot Dumai), Titin (buka praktek dokter dengan suaminya di Dumai), Uul (nerusin usaha babehnya di kota yang sama), Adi (Manajer Studio Band didumai), Sony (local musiciant di dumai), Elke (buka praktek dokter dibogor apa surabaya ya??), Merry (dokter dibandung), Opan (staaf Bussan otofinance di Dumai), Yoan (musiciant gak jelas), Iir, Imam dan Emir (ketiganya kakak beradik beda 1 tahun udah gak jelas kabarnya, mereka pindah ketika aku kelas 6 SD kejambi).

Dulu, setiap sore kami (anak2 cowok) suka bermain layang-layang dilapangan komplek kami, atau bermain sepak bola, main perang-perangan, maen tonggak dingin (petak umpet). Oh ya, kami bermain setelah sholat Ashar, siangnya kami belajar ngaji di madrasah baiturrahman dengan Alm Ustad Abukasim, Bapak Ustad H.Usman atau dengan Ustad Bang Syukri.

Oh ya, dimadrasah aku memiliki banyak kecengan (sekadar suka hehe). Diantaranya Ina, Fitri (dah nikah hehehe), dan Yuni. Ina dan Yuni tak pernah kuketahui hingga kini kabarnya. Ke madrasah aku menggunakan sepeda, abangku yang mengkayuh dan aku bonceng dibelakang. Soal abang ku yang satu ini, dia cukup baik dan protektif terhadap diriku. Dia sangat memegang amanat ayah ku untuk keep protect me. Dimadrasah aku paling suka berkelahi dengan senior ku. Diantaranya Bang Iwan, Bang Aulia. Jarak mereka dengan diriku sekitra 3 tahun. Aku memang selalu mencari masalah, dan bila berkelahi aku selalu kalah. Namun bila aku berkelahi abang ku akan datang membantu, dan kami selalu menang. Sebenarnya ini adalah cara ku mengajak abang ku berkelahi hehehehe sorry bro!, Soalnya orang nya pendiam dan gak mau cari masalah. Namun bila adiknya dipukulin, jangan harap tu orang bakal lepas dari pitingan nya sebelum Pak Ustad turun tangan. Walaupun kami kecil, tapi kalau sudah bergabung gak satupun anak-anak dimadrasah yang berani mengganggu. Abang ku jarang digangu karena selain ia jago ngaji dan gak suka cari masalah. Biasanya aku digebukin diwc atau ditempat wuduk. Dan hebatnya aku gak pernah ngadu ke abangku, karena emang aku bukan pengadu. Tapi akan lain kejadian nya jika aku digebukin dihadapan abangku. Life is beautiful….

Wanita!!

August 7th, 2007 by asaasputra

yah, wanita.. sosok yang unik. Dalam hadist, nabi memperingatkan kaum adam agar berhati-hati terhadap wanita. Kata nabi, wanita salah satu variabel penjerumus dalam kesuksesan kaum adam. Selain harta dan tahta. Seorang teman ku, Jungjun mengatakan "wanita mah racun put, amun teu dikawin mah!". Wanita, banyak dipuja banyak di hina, wanita adalah masalah kompleksitas, tak berujung dari sebuah perdebatan perdaban manusia.

Menjadi Pengusaha..

June 22nd, 2007 by asaasputra

Sebagian orang berpendapat menjadi
pengusaha adalah bakat, sisanya adalah
kemauan dan kesabaran . Dulu kata Ayah
saya, seseorang menjadi pengusaha/
pedagang hanyalah karena ketiadaan
pilihan hidup (walaupun dikemudian hari
pendapat beliau berubah), artinya mereka
tidak diterima disektor lapangan kerja.

Pada dasarnya ada 2 penyebab kenapa
orang menjadi seorang pengusaha,
pedagang atau biasa disebut bergerak
dibidang wiraswasta.

1.Karena niat dari diri sendiri
2.Karena keterpaksaan

Pada dasarnya 80% orang berkecimpung
didalam dunia usaha adalah karena alasan
nomor dua. Dahulu, ketika pendidikan
tinggi belum dapat digapai oleh seluruh
lapisan masyarakat sebagian besar
pengusaha yang adalah orang-orang yang
tidak sempat mencicipi nikmat pendidikan
tinggi. Disekitar tahun 70 sampai dengan
akhir tahun 90, para konglomerati yang
menguasai perekonomian Indonesia adalah
faktanya.  Boleh dikatakan justru
orang-orang yang bekerja pada
konglomerat tersebutlah yang menikmati
pendidikan tinggi. (misal tenaga
accounting, civil engineering etc).
Para konglomerat tersebut kebanyakan
adalah warga keturunan cina. Alasan
terpenting kenapa mereka menjadi
pengusaha karena keterpaksaan adalah ;

-tidak diperioritaskannya warga
keturunan untuk memperoleh akses
pendidikan negeri
-Adanya peraturan tidak tertulis yang
melarang warga keturunan(cina) untuk
menjadi PNS/ TNI/POLRI
-Birokrasi yang berbelit dalam
kepengurusan hak-hak sipil

Karena ketiadaan pilihan tersebutlah
kenapa orang cina perantauan cenderung
melakoni dunia usaha.

Seorang teman, sesama wirasawasta pernah
berkata pada saya, “beruntunglah anda
berniat menjadi pengusaha karena niat
dan terjun dalam usia yang cukup muda,
karena bila anda terjun diusia saya dan
telah memiliki pengalaman kerja pada
perusahaan besar kemudian usaha anda
mengalami kemunduran akan ada sebercik
penyesalan kenapa anda dahulu berhenti
bekerja..” ujarnya.

Dari pendapat teman saya tersebut,
mungkin bisa dikatakan beliau menjadi pengusaha
adalah karena karena pilihan hidup. Tak dapat
dipungkiri, setiap pengusaha yang sukses
pernah mengalami kejatuhan, kegagalan
yang mereka sebut sebagai proses
pembelajaran..Namun karena ketiadaan pilihan lain,
ketika mereka jatuh mereka akan tetap melanjutkan
usahanya walaupun harus beralih dengan bentuk yang lain.

Memang untuk menjadi seorang pengusaha,
adalah bukan pekerjaan yang gampang,
tapi merupakan pilihan hidup yang penuh
tantangan dan kaya akan petualangan.

Berikut adalah hal-hal yang harus
dimiliki bila ingin menjadi pengusaha ;
1.Percaya akan Allah dan segala
kekuatanNya.
2.Memiliki mental, fisik dan stamina
yang kuat
3.Semangat pantang menyerah.
4.Sabar
5.Kreatif dan Inovatif
6.Tersenyum
7.Leadership
8.Disiplin

Pertanyaan selanjutnya adalah ;
Kenapa mahasiswa ketika tamat
orientasinya mencari kerja?

Masih ingat jaman awal2 kuliah? Atau
brosur-brosur Universitas, Bimbingan
belajar? Dahulu ketika saya tamat
sekolah menengah atas saya membaca
brosur dari perguruan tinggi swasta kira
seperti ini.. “lulusannya mudah
bekerja” atau “jurusan informatika, anda
akan bekerja sebagai Network
Administrator, Programmer, Analyst
Sistem” disertai dengan tabel dan
perkiraan gaji setiap jabatan. Bahkan
ketika hari pertama kuliah saja seorang
dosen pernah mengatakan kepada saya
“anda belajar ilmu ini, bersyukurlah
anda karena dengan ilmu ini anda akan
mendapatkan gaji kelak sekitar sekian
dollar..etc’

Jadi pada dasarnya adalah sistem
pendidikan, doktrin-doktrin dan
orientasi yang harus diubah.

Hamil LAgi!

June 22nd, 2007 by asaasputra

Seminggu yang lalu aku kejakarta, mengunjungi ayahku yang ddampingi ibuku kebetulan beliau ada pekerjaan dijakarta. Menejemput ayah ke hotel ditempat beliau nginap adalah yang paling memusingkan. Beliau selalu menginap di hotel borobudur, dan aku tak pernah hapal jalan menuju arah tersebut. Alasan beliau.. biar dekat ke masjid istiqlal.

Akhirnya kita ketemuan di depok saja, karena aku memang tak pernah hapal jalan ke hotel tersebut (walaupun berkali2 kesana). Depok adalah rumah abangku, oh ya selain pekerjaan tujuan kami sekeluarga ngariung dijakarta adalah karena salah seorang ponakan ayahku (sepupuku) menikah, di cikampek. Cukup jauh… besok harinya, kami sekeluarga menuju cikampek.  Setelah kurang lebih seharian diacara pernikahan, kami pun pulang. Sesampainya dirumah, kakak ipar ku, seperti mual-mual dan muntah2. Aku merasa gak enak, kupikir cara menyetirku yang salah.. eh ternyata beliau hamil lagi… busyet d… anak nya yang kemaren ajabaru juga ulang taun pertama. Dikebut bang?? gile gw aja blom nikah.. huh.. hiks..

Chatting !!

May 10th, 2007 by asaasputra

Pada dasarnya aku bukan lah tipikal orang yang suka chatting didunia maya. Tapi dalam keadaan suntuk kadang-kadang aku melakukannya, lumayan buat nge-hilangin suntuk, toh aku punya sambungan bandwidth gratis. Diantara semua fasilitas chatt yang ada aku paling sering menggunakan Yahoo Messanger, karen emang disitulah komunitas teman2 ku bermukim (real friend), dibandingkan MIRC, ICq dll..

Beberapa hari terkahir ini aku sempat berkenalan dengan seseorang, via chatting tadi. Awalnya aku iseng, masuk ke mirc, mungkin karena ini fasilitas chatt yang paling bisa menyembunyikan indentitas pribadi dan aman. Namun perkenalan ku pada sosok yang satu ini membuat aku menjadi begitu terinspirasi. Dari mirc, nyambung ke ID Ym, saling telpon, menanyakan kabar dan lain sebagainya.

Pada dasarnya secara geografis, sosok ini sangat dekat, cukup dekat bahkan teramat dekat. Tapi aku berusaha untuk tidak bertemu dengan sosok ini, karena emang kesibukan beliau yang teramat sangat. Bahkan kadang-kadang aku merasa dia terlalu sibuk. Pernah suatu ketika secara implisit aku mengajak ketemuan dan bahkan secara eksplisit pun pernah ku utarakan, namun sepertinya dia ataupun aku sendiri merasa belum siap. Dari obrolan ringan yang kucoba tawarkan kepadanya sepertinya ada kesamaan presepsi antara aku dan dirinya. Ntahlah ketika berhadapan dengan masalah serius…

Yah itulah dunia maya, kadang-kadang kita berani dan teramat berani untuk terbuka, apa adanya dan berterus terang dibandingkan kondisi keadaan sebenarnya. Tapi aku bertekad untuk menjaga relationship ini, paling tidak dia sosok yang cukup baik untuk kategori misterius.

Wallahualam, paling gak prinsip silaturahmi telah kulaksanakan disini.

Makasih tuhan, memperkenalkan aku dengan co_jijay (homo ya put?????!!!) halah!

sabar (belajar dakwah euy)

May 9th, 2007 by asaasputra

Sabar, kata yang gampang dan hampir pernah dikatakan semua orang kepada teman, sodara, atau kerabatnya. Namun implementasi kata ini tak semudah mengucapkannya. Acap kali kita mengatakan "sabar ya neng… sabar ya a’.. ato sabar ya bu/pak dsb.. " (tergantung kepada siapa kita mengatakan dan menghormati orang tersebut) tanpa mengerti dan memahami arti kata tersebut.

Kebanyakan dari kita menggunakan kata-kata tersebut dalam wacana berusaha meyakinkan objek kita bahwa kita ikut bersimpati terhadap objek tersebut. Kenapa saya katakan objek, karena kebanyakan dari kita (termasuk saya) ketika setelah mengucapkan kata-kata tersebut seolah-olah lepas dari beban tanggung jawab sebagai seorang teman, kerabat, atau siapapun yang tertimpa musibah.Kata objek mempresentasikan sebuah benda, dan kata objek juga acapkali disandingkan dengan kata ‘penderita’,  dan kenapa saya menyandingkannya dengan kata "simpati" pada beberapa kalimat alinea pembuka tersebut? Adalah karena tidak semua orang sanggup menyikapi dan dan apalagi bertindak empati . Untuk mudahnya,  point alinea ini kenapa saya menggunakan kata "objek" dan "simpati" adalah, karena kita  tidak sungguh-sungguh mengucapkan sabar, apalagi mengimplementasikannya kedalam hidup kita.

Karena susahnya implementasi sabar ini, Allah SWT, cukup banyak memeperingatkan Muhammad SAW dan umatnya (didalam Al-Qur’an untuk bersabar). Antar lain ;

Dan Kami jadikan di antara mereka itu beberapa
pemimpin yang akan memberikan pimpinan dengan perintah Kami, yaitu
ketika mereka berhati teguh (sabar)”.
(QS. As-Sajadah : 24).

“Dan
telah sempurnalah perkataan yang baik dari Tuhan engkau untuk Bani
Israil, disebabkan keteguhan hati (kesabaran) mereka”. (QS Al A’raf :
137).

“Kepada orang-orang itu diberikan pembalasan (pokok) dua kali lipat, disebabkan kesabaran mereka”. (QS. Al Qashash : 54)

“Sesungguhnya orang-orang yang sabar itu, akan disempurnakan pahalanya dengan tiada terhitung”. (QS Az-Zumar : 10).

Dalam beberapa tausiah, ayat yang paling populer disampaikan pendakwah salah satunya adalah ;

“Hendaklah kamu bersabar, sesungguhnya Allah itu bersama orang-orang yang sabar”.
(QS. Al-Anfal : 46).

Menurut saya, kata sabar memiliki rival yaitu egois. Ya, egois adalah sebuah kata yang kita artikan sebagai sifat yang mau menang sendiri. Tentang egois, saya ingin mencontohkan sebuah peristiwa humanistis yang wajar, ketika oran tua kita meninggal. Ayah atau pun ibu, adalah suatu hal yang manusiawi bila kita menangis. Namun, satu hal yang pasti, disitulah terlihat nyata bahwa kita adalah manusia yang egois dan mementingkan diri sendiri. Ketika kita menangis kita akan berfikiran.. "duh ayahku sudah tiada.. kemana lagi aku harus menggantungkan nasibku, siapa yang akan membayar sekolahku, kenapa aku masi semuda ini harus menjadi tulang punggung keluarga?…akan banyak lagi yang akan ditangisi.". Pada dasarnya, sikap itu mencerminkan dan merealisasikan keegoisan kita. Kenapa kita menangisi nasib ayah kita yang sudah meniggal dengan membayangkan kepentingan diri kita? bukannya keajiban seorang anak yang sholeh mendoakan ayahnya yang sudah meniggal? atau bahkan mengurusi segala kebutuhan dan keperluan proses pemakaman. Sebagian dari kita malah melakukan pembenaran untuk idak memandikan/mengafani dengan alasan sedang berduka cita, dan menyerahkan segala urusan pemakaman kepada ustad/ lebai etc.

Ilustrasi peristiwa pola pikir, tangisan diatas sesungguhnya tidak akan terjadi bila kita telah mengimplementasikan sifat sabar dalam diri kita. Bukan kah Allah mengajarkan kita untuk melafazkan "Innalillahi wainna illaihi rojiun" yang artinya al; "sesungguhnya milik Allah akan kembali lagi kepadaNya". Lanjutan dari kajian sabar adalah ikhlas, yang tentunya akan kita bahas pada sesi berikutnya..

 

(may day) dan cara berfikir kebanyakn bangsa ku…

May 6th, 2007 by asaasputra

Cara  berifikir apa pengusaha:
Saya adalah kapitalisme, dan karyawan saya adalah baut-baut kapitalisme. Saya akan selalu ingin memberbanyak pundi-pundi kekayaan saya dengan memprkatekan prinsip ekonomi. Saya akan mencari untung sebanyak-banyaknya dengan menggunakan modal seminim-minimnya. Realisasi prinsip ekonomi saya akan menekan upah buruh, saya akan memotong upah lembur, menggunakan buruh kontrak (out sourcing). Toh bila saya melakukan efisiensi dibidang lain tidak mungkin, karena bisnis dinegeri ini banyak transaksi yang gak ada post nya dalam aturan akutansi sleain pajak yang emang mahal???

Cara  berifikir aparat birokrasi pejabat pemerintah:
Saya adalah penguasa, tanpa saya ekonomi tidak akan berjalan, saya akan menekan seminim mungkin upah buruh, akan saya jadikan andalan untuk menarik investor asing. Lakukan pungutan selain pajak resmi terhadap investor untuk menambah penghasilan saya selain gaji saya yang sama dengan UMR.

Cara berfikir buruh :
Kerja mah kerja-kerja aja… kalo perlu malas-malasan… mending di pabrik dari pada jadi sales ato balik kampung jadi petani….huh… hidup kok susah ya?

Cara berfikir mahasiswa :
1. Saya adalah harapan bangsa, perubahan bangsa adalah ditangan saya. Saya harus memperjuangkan nasib kaum tertindas.
2. Saya gak peduli ama nasib bangsa ini, cepat-cepat tamat cari kerja dan berharap gaki gede.
3. Gak peduli….

Kapitalisme(dongeng filem india)

May 6th, 2007 by asaasputra

Tulisan ini, terinsipirasi dari pembicaraan saya dengan abang saya,  seorang teman yang baru saya kenal beberapa hari ini (Miss P**), seorang Adin*** (one of my tutor on biz) kejadian sehari-hari yang saya alami sebagai seorang yang berusaha hidup dengan cara berwiraswasta, serta resume (sebelum menjadi buku)  hakim yang adil bernama dinar. Walaupun tulisan ini tidak ada hubungannya langsung terhadap referensi orang-orang tersebut, tapi semangat, pola hidup, cara berfikir serta tindakan dan sikap merekalah mencoba saya untuk menulis.

Kapitalisme  (dongeng film India)
Gw ingat dalam pelajaran sejarah jaman gw masi SMP, ketika Soekarno seorang founding father negara ini behasil memproklamirkan kemerdekaan negara Republik Indonesia bersama teman-teman seperjuangannya, satu hal yang mereka takutkan terhadap masa depan bangsa yang masih baru ini adalah kapitalisme. Hal ini sudah terlihat dari kelakuan dan sikap politik para perintis kemerdekaan ini, walaupun Ir Soekarno, MR Supomo,  ataupun Muhammad  Yamin dalam usulan tema (rancangan) dasar negara mengalami perbedaan namun ke dipengaruhi oleh latar belakang, pendidikan, agama, budaya, aliran politik dan variabel lain yang melekat pada ketiga tokoh bangsa ini) namun pada dasarnya, semangat nasionalisme mereka sangat anti kapitalisme.

Pada dasarnya kapitalisme adalah bentuk baru dari kolonialisme, dari metode, cara dan prilaku para aktor serta maksud yang terselubung dibaliknya. Analogi sederhananya adalah kolonialisme badan sedangkan kapitalisme adalah rohnya.Adalagi istilah imperialisme, yang inti dari  ketiga kata tersebut adalah bentuk-bentuk penjajahan dari pemodal besar terhadap rakyat jelata.

Saat ini keterketakutan para founding father negara kita sudah nyata-nyata terbukti. Kita tentu masih ingat jaman orde baru, ketika ekonomi kita mulai bangkit, salah satu andalan diplomasi dan negoisasi pemerintah kita pada saat itu menawarkan upah buruh yang murah kepada para investor asing. Pada saat itu kebebasan berbicara , kebebasan ber-organisasi serta demokrasi yang dibelunggu menjadikan para buruh ataupun pekerja tidak dapat berbuat banyak. Keberpihakan pemerintah pada pemilik modal baik asing maupun lokal menjadikan pertumbuhan ekonomi menjadi seolah-olah  cemerlang. Semuanya berdasarkan analisa ekspor, impor, pendapatan perkapita atau para jagoan ekonomi negeri ini menyebutnya dengan ekonomi makro. Parameter ukuran berkutat pada point-point ekonomi makro tersebut selain kekuatan kapital ekonomi dengan istilah cadangan rupiah dll yang ada di BI. Nyatanya, dengan kelakuan seorang MR SOROS, habislah satu negara..

Ketika negara kita mulai berbenah dari keterpurukan ekonomi, dengan meminjam duit dari IMF, ternyata IMF menyarankan hal2 yang diluar harapan. Dengan harga rupiah yang anjlok, menjadikan nilai saham hancur-hancuran mereka meng-haruskan badan-badan usaha negara dijual kepada pihak asing yang tak lain bagian dari mereka.

Fenomena imprealisme, kapitalisme, dan kolonialisme semakin kasat mata, kalau kapitalisme adalah bentuk penjajahan ekonomi oleh pemodal kuat (dalam hal ini peroaranga atau swasta) tampaknya bukan itu yang terjadi di Indonesia. Melain kan sudah kebentuk imperialisme atau kolonialisme. Penguasaan saham saham perusahaan blue chip yang ada di negara kita dikuasai oleh orang asing. Mungkin kita cuma tau Temasek holding co yang menguasai saham indosat. Tapi tahukah kita kalau temasek itu adalah BUMN nya singapura? artinya negara kita secara tidak langsung telah dikuasai oleh negara kecil???

Menganalogikan alinea2 diatas dengan Tuan Takur (artinya tuan tanah, Takur = Juragan) dalam dongeng filem india adalah suatu hal yang amat sangat hampir mirip. Tuan Takur secara fisik adalah seorang yang kecil, buruk rupa, dengan kapital yang kuat melawan rakyat jelata yang kuantitasnya jauh lebih banyak. Tuan Takur selalu diposisikan sebagai orang yang maruk, tamak, suka menindas rakyat kecil, memanfaatkan aparat korup dalam menjalankan bisnisnya. Tapi kita semua tau ending dongeng film india ini selalu happy. 80% filem india tak lepas dari kisah ini, namun hampir semua penonton menikmatinya, dan filem india selalu tak kekurangan peminatnya. Kenapa? karena penonton (notabene kita) selalu memposisikan diri  sebagai bangsa yang tertindas, namun yang membuat kita menjadi lemah adalah, kita selalu berharap endingnya ada seorang Jaka Tingkir, atau RAtu Adil yang memberesi segala sifat tuan Takur tanpa pernah befikir untuk menjadi si Jaka Tingkir ato Ratu Adil.

Menjadi Jaka Tingkir, Ratu Adil adalah orang yang akan dicatat dalam sejarah kehidupan bangsa ini. Adalah hal yang fenomenal bila seluruh bangsa ini merubah cara berfikirnya, tidak lagi menjadi rakyat jelata. Tapi menjadi Ratu Adil ataupun Jaka Tingkir. Tentu aneh donk cerita nya???

Intinya kita mo jadi Jaka Tingkir ato Rakyat Jelata????

 

 

 

Cerita Masa Kecil ku (II)

April 1st, 2007 by asaasputra

Cerita ini, kita lanjutkan… Oh ya, cerita ini sengaja gw bikin gak bersambung, artinya tiap part dari Cerita Masa Kecil ku akan melalui lompatan-lompatan waktu dan kejadian. Cerita ini hanya berdasarkan memori yang kuingat dan teringat secara random dan spontanitas.

Patah tangan
Aku ingat kejadian ini dirumah nenek dari pihak ibuku, saat itu ibuku sedang hamil tua adikku yang paling bungsu. Ya, seperti kebiasaan ibu-ibu pada masa itu atau mungkin masa sekarang dan kebudayaan orang Indonesia pada umumnya, menjelang hari-hari akhir kehamilannya, iya akan merasa nyaman bersama orang tuanya. Begitu juga ibuku, aku, abangku kami semua tinggal dirumah nenek. Sementara ayahku tetap bekerja dikota pesisir pantai timur sumatra dimana kami sekeluarga tinggal. Jarak antara kota tempat nenek tinggal dengan kota kami bermukim adalah sekitar 4 jam perjalanan menggunakan kendaraan pribadi. Aku ingat pada masa itu umurku 5 tahun. Saat itu aku masi TK 0 kecil, kalau tidak salah kejadian itu sekitar bulan January 1984, dan aku lupa pada saat itu emang lagi libur atau emang ibuku meliburkan diriku. Tapi yang aku tau, pada masa itu aku telah sekolah dan aku tidak sekolah karena harus mengungsi kerumah nenek.

Rumah nenek cukup luas, ada sekitar 4 kamar yang sangat luas, dan beberapa ruang yang fungsinya aku tidak mengerti tapi cukup luas. Dizaman kakekku masih hidup dan masih bekerja (kakek ku meninggal ketika aku berumur 3 tahun) , nenek dan kakek ku adalah "induk semang" atau tempat penampungan orang-orang kampungku yang hendak merantau. Menurut cerita ibuku, rumah nenek selalu penuh dengan orang-orang dari kampung yang merantau dan mencari kehidupan baru, sehingga makan pun harus antri. Pada masa itu nenek menanak nasi menggunakan kayu bakar, walaupun telah memiliki dapur dan kompor minyak. Tempat menanak nasi terletak disamping kandang ayam, halaman belakang rumah. Aku senang menemani tante2 ku (adik2 ibu ku) atau nenek ku yang sedang menanak nasi. Aku masi ingat, untuk menyalakan kayu bakar api harus ditiup dulu dengan perlahan  menggunakan pipa, aku sangat suka saat melihat proses meniup2 api pada kayu bakar menggunakan pipa tersebut. Sesekali aku mencobanya, namun tak pernah apinya nyala, sampai mulutku monyong. Halaman belakang rumah nenek tidak begitu luas, tapi cukup rindang. Sekali waktu om ku memetik alpukat dan membuat juice untukku, atau kadang-kadan memetik buah kelapa muda. Ibuku adalah anak tertua, tentunya aku dan abang ku sangat dimanja dirumah ini, karena kami hanya berdua yang imut-imut. Aku dan abangku hanya selisih satu tahun, harus ku akui, abangku adalah cucu favorit. Selain, kulitnya putih bersih, dia juga anak yang manut, patuh dan gak cerewet. Berbeda jauh dengan diriku yang cukup bandel, usil. Selain itu kulitku yang item, dan kaki penuh kudis bekas luka akibat kebandelan ku sendiri mungkin menjadikan alasan diriku terhadap mereka sebagai "maenan" alternatif. Tapi aku gak peduli, karena aku pada masa itu tidak terlalu suka digendong atau dipangku ataupun disuapin makan, karena aku emang bermasalah sama makan.

Tetangga-tetangga nenek ku juga nenek-nenek.. nah lho kenapa bisa?, hal ini karena kakek ku membangun rumah berbarengan dengan teman2 angkatan kerjanya. Hingga rata-rata umur mereka sama. Jadi pada masa itu kalau lagi liburan sekolah aku memiliki banyak teman seumuran dengan ku dan status mereka juga cucu pertama dari setiap keluarga. Aku masih ingat teman- teman kecil ku pada masa itu, disebelah kanan rumah neneku adalah rumah bundo(dari kata bunda bahasa minang), bundo memiliki cucu-cucu Heni, Heri, Heru, Adi. Keempatnya adalah kakak beradik kandung dan Adi yang terkecil. Disebelah rumah bundo adalah rumah nya Farid. Didepan rumah ada Joko, Ian, Utis. Aku lupa nama kakek nenek mereka, karena nenek dan kakek yang kusapa pada masa itu cuma bundo dan ayah. Karena memang kakek-kakek atau nenek- nenek yang ada disekitar rumah nenek ku jarang ku sapa, dan mereka juga sangat alergi dengan diriku. Soalnya aku suka mencuri jambu, pisang atau pun menganggu ayam atau burung peliharaan mereka. Mungkin kalau bisa aku gak boleh bergaul dengan cucu-cucu mereka hehehe…

Ayah dan Bundo adalah kakek dan nenek yang sangat aku hormati, karena keramahan mereka, selain kakek dan neneku sendiri. Cucu-cucunya mereka cuga baek-baek dan aku tidak pernah telibat konflik. Aku sangat suka berkelahi ketika kecil, Joko, Ian, Utis adalah sparing partner ku. Joko, Ian, Utis adalah saudara sepupu seumuran. Pernah suatu ketika aku berkelahi dengan mereka bertiga, gara-gara piring kaleng yang kujadi kan setir-setiran (berpura-pura jadi supir) direbut oleh Joko. Joko kupukul jidatnya, ternyata kedua sepupunya ikut mengeroyok ku. Aku lupa siapa yang menang dalam perkelahian itu, tapi aku ingat kalau pada saat itu aku tidak menangis, dan Ian dan Utis menangis dalam pengeroyokan itu, sedangkan Joko tidak. sepertinya aku memenangkan pertempuran hehehe.

Malam, katika hari H ibu melahirkan, aku masih ingat kejadian tersebut, sekitar abis maghrib ibuku dijemput ambulan. AKu menangis minta ikut sama ibu, bahkan meraung-raung. Tangan dan tubuh kecilku ditahan oleh neneku, anehnya kakak ku tidak ikut menangis ketika ibu h dibawa ambulan kerumah sakit dan meninggalkan kami. Aku ingat pada malam itu aku tidak bisa tidur sama sekali, dan tak henti-hentinya menangis. Neneku membelai rambut ku. Pagi- pagi buta, setelah neneku selesai sholat subuh, begitu pintu depan dibuka aku lari keluar rumah hendak mengejar ambulan tadi malam yang membawa ibuku. Aku berhasil kabur dari rumah tanpa sepengetahuan seisi rumah. Ambulan tidak kudapati, kucoba menelusuri jalan,  dan berharap mengikuti jejak ambulan. Tapi aku bingung sendiri karena sangat banyak jejak bekas ban mobil pada jalan tanah depan rumah nenek. Begitu dijalan aspal jejak tersebut udah gak ada? Nah lho.. aku bingung… kearah mana lagi aku harus jalan?. Akhirnyasetelah berfikir panjang, aku melihat pohon-pohon yang rindang yang terdapat disekitar perumahan rumah nenek. Hari semakin pagi, aku mendengar suara orang-orang dirumah neneku mulai gaduh karena kehilangan diriku. Namaku dipanggil-panggil… putra…putra.. aku gak peduli! Akhirnya aku mendapat akal, aku melihat pohon jambu dihalaman rumah tetangga depan yang cukup tinggi. Jika pohon tersebut aku panjat sampai dahan paling atas, tentunya aku dapat melihat ambulan yang membawa ibuku tadi malam.
Singkat cerita, aku berhasil memanjat pohon tersebut. Bahkan hingga dahan paling atas. Namun aku tidak melihat ambulan kurang ajar tadi malam! Huh! Karena tertutup oleh daun-daun pohon lain yang cukup rindang. Tapi dari posisi tersebut aku bisa melihat kegaduhan yang terjadi dirumah neneku. Tante2 ku dan om2 ku yang hendak berangkat sekolah, kuliah ataupun kerja terlihat panik hehehe..Aku diam saja. Hingga akhirnya seluruh tetangga akhirnya tau kalau aku hilang.. maka mulailah orang-orang mencari ku. Termasuk teman2 kecilku..sangat lucu kejadiannya, dimana aku bisa melihat orang2 yang mencariku tapi orang2 tidak mengetahui keberadaan ku hehehe….Namun Joko berhasil menemukan ku. Anak sialan ini mengetahui keberadaan ku diatas pohon. Dia melihat sendal ku, yang kutinggalkan dibawah pohon. Namun dia tidak memberi tahukan ke yang lain, dia malah mengambil galah (kayu panjang untuk memetik buah2an) dan mulai menyodok-nyodokan kearah diriku. Anak ini, mungkin lebih jahil dari diriku kalau aku pikir-pikir sekarang… Akhirnya aku kehilangan kesimbangan.. aku jatuh…kedubrag….!!! Ketika aku berdiri hendak memukulnya, anehnya tanganku susah digerakan… Aku kaget.. tangan ku patah..ya patah…sangat mengerikan, aku berusaha mengangkat tangan tersebut… namun tangan itu terkulai, aku kaget dan mulai menangis sejadi-jadinya. Tangan ku patah membentuk sudut 90 derajat….orang-orang yang kehilangan diriku mendapati diriku yang tekulai dibawah pohon dengan kondisi yang sangat parah! Joko lari, aku ingat saat itu yang pertama kali mendapati diri ku ialah tante elok (bibinya Heny), beliau menggendongku menuju rumahnya. Tak beberapa lama kemudian, neneku datang menjemput ku. Singkat cerita, aku dibawa kerumah sakit oleh om ku dengan motor. Sebelum sampai kerumah sakit, kami berselisih jalan dengan ayahku yang hendak kerumah nenek. Aku kerumah sakit diantar ayahku. Sesampainya dirumah sakit aku harus dirawat inap. 2 Hari aku dirawat dirumah sakit. Tapi aku sangat bahagia, karena aku bertemu dengan ibuku yang dirawat dirumah sakit yang sama dan bisa melihat adik bayi ku. Aku ingat, hal ini tak lain karena pertolongan seorang suster yang baik, aku mengatakan padanya.. tante, mama putra juga dirumah sakit lagi melahirkan..putra pengen ketemu…dan suster tersebut mendorong rempat tidur untuk menuju ruangan ibuku..

Tangan ku yang patah harus digips… dan aku diberi kain untuk menyandangnya. Aku seolah2 mengendong bayi gara2 tangan patah ini. Aku menyebutnya disemen, karena aku belom ngerti digips.  Setelah 2 hari dirawat diumah sakit, aku boleh pulang. Oh ya, tangan ku yang tangan kiri.

Sesampainya dirumah nenek, aku kembali bermain-maen seperti biasa bersama teman-teman ku. Seperti anak kecil lainya, aku sudah melupakan kebiadaban si Joko, malah aku kembali bermain bersamanya. Pada hari itu Joko mengajak ku untuk mencuri jambu tetangga sebbelah kiri rumah neneku. Ternyata pohon jambu yang hendak kami curi telah dipanen. Akhirnya kami mendapati pohon belimbing dengan buah yang cukup ranum-ranum. AKhirnya Joko yang memanjat pohon tersebut, sedang aku menjaga dan mengumpulkan buah-buahan yang berhasil dia jarah. Semua buah-buahn yang berhasil kami jarah aku simpan digendongan tanganku. Setelah memetik hasil yang banyak kami pun menuju halaman belakang rumah nenek dan siap menyantapnya. Namun, aku lupa kalo belimbing tersebut tenyata banyak semutnya.. semut-semuttersbut masuk kedalam tangan ku yang digips dan mulai menggigit tangan ku, tanpa bisa kugaruk, rasanya gatal sekali. Dan aku sangat tersiksa, aku pulang kerumah nenek tanpa sempat melahap belimbing hasil curian tersebut. ..