Archive for May, 2007

Chatting !!

Thursday, May 10th, 2007

Pada dasarnya aku bukan lah tipikal orang yang suka chatting didunia maya. Tapi dalam keadaan suntuk kadang-kadang aku melakukannya, lumayan buat nge-hilangin suntuk, toh aku punya sambungan bandwidth gratis. Diantara semua fasilitas chatt yang ada aku paling sering menggunakan Yahoo Messanger, karen emang disitulah komunitas teman2 ku bermukim (real friend), dibandingkan MIRC, ICq dll..

Beberapa hari terkahir ini aku sempat berkenalan dengan seseorang, via chatting tadi. Awalnya aku iseng, masuk ke mirc, mungkin karena ini fasilitas chatt yang paling bisa menyembunyikan indentitas pribadi dan aman. Namun perkenalan ku pada sosok yang satu ini membuat aku menjadi begitu terinspirasi. Dari mirc, nyambung ke ID Ym, saling telpon, menanyakan kabar dan lain sebagainya.

Pada dasarnya secara geografis, sosok ini sangat dekat, cukup dekat bahkan teramat dekat. Tapi aku berusaha untuk tidak bertemu dengan sosok ini, karena emang kesibukan beliau yang teramat sangat. Bahkan kadang-kadang aku merasa dia terlalu sibuk. Pernah suatu ketika secara implisit aku mengajak ketemuan dan bahkan secara eksplisit pun pernah ku utarakan, namun sepertinya dia ataupun aku sendiri merasa belum siap. Dari obrolan ringan yang kucoba tawarkan kepadanya sepertinya ada kesamaan presepsi antara aku dan dirinya. Ntahlah ketika berhadapan dengan masalah serius…

Yah itulah dunia maya, kadang-kadang kita berani dan teramat berani untuk terbuka, apa adanya dan berterus terang dibandingkan kondisi keadaan sebenarnya. Tapi aku bertekad untuk menjaga relationship ini, paling tidak dia sosok yang cukup baik untuk kategori misterius.

Wallahualam, paling gak prinsip silaturahmi telah kulaksanakan disini.

Makasih tuhan, memperkenalkan aku dengan co_jijay (homo ya put?????!!!) halah!

sabar (belajar dakwah euy)

Wednesday, May 9th, 2007

Sabar, kata yang gampang dan hampir pernah dikatakan semua orang kepada teman, sodara, atau kerabatnya. Namun implementasi kata ini tak semudah mengucapkannya. Acap kali kita mengatakan "sabar ya neng… sabar ya a’.. ato sabar ya bu/pak dsb.. " (tergantung kepada siapa kita mengatakan dan menghormati orang tersebut) tanpa mengerti dan memahami arti kata tersebut.

Kebanyakan dari kita menggunakan kata-kata tersebut dalam wacana berusaha meyakinkan objek kita bahwa kita ikut bersimpati terhadap objek tersebut. Kenapa saya katakan objek, karena kebanyakan dari kita (termasuk saya) ketika setelah mengucapkan kata-kata tersebut seolah-olah lepas dari beban tanggung jawab sebagai seorang teman, kerabat, atau siapapun yang tertimpa musibah.Kata objek mempresentasikan sebuah benda, dan kata objek juga acapkali disandingkan dengan kata ‘penderita’,  dan kenapa saya menyandingkannya dengan kata "simpati" pada beberapa kalimat alinea pembuka tersebut? Adalah karena tidak semua orang sanggup menyikapi dan dan apalagi bertindak empati . Untuk mudahnya,  point alinea ini kenapa saya menggunakan kata "objek" dan "simpati" adalah, karena kita  tidak sungguh-sungguh mengucapkan sabar, apalagi mengimplementasikannya kedalam hidup kita.

Karena susahnya implementasi sabar ini, Allah SWT, cukup banyak memeperingatkan Muhammad SAW dan umatnya (didalam Al-Qur’an untuk bersabar). Antar lain ;

Dan Kami jadikan di antara mereka itu beberapa
pemimpin yang akan memberikan pimpinan dengan perintah Kami, yaitu
ketika mereka berhati teguh (sabar)”.
(QS. As-Sajadah : 24).

“Dan
telah sempurnalah perkataan yang baik dari Tuhan engkau untuk Bani
Israil, disebabkan keteguhan hati (kesabaran) mereka”. (QS Al A’raf :
137).

“Kepada orang-orang itu diberikan pembalasan (pokok) dua kali lipat, disebabkan kesabaran mereka”. (QS. Al Qashash : 54)

“Sesungguhnya orang-orang yang sabar itu, akan disempurnakan pahalanya dengan tiada terhitung”. (QS Az-Zumar : 10).

Dalam beberapa tausiah, ayat yang paling populer disampaikan pendakwah salah satunya adalah ;

“Hendaklah kamu bersabar, sesungguhnya Allah itu bersama orang-orang yang sabar”.
(QS. Al-Anfal : 46).

Menurut saya, kata sabar memiliki rival yaitu egois. Ya, egois adalah sebuah kata yang kita artikan sebagai sifat yang mau menang sendiri. Tentang egois, saya ingin mencontohkan sebuah peristiwa humanistis yang wajar, ketika oran tua kita meninggal. Ayah atau pun ibu, adalah suatu hal yang manusiawi bila kita menangis. Namun, satu hal yang pasti, disitulah terlihat nyata bahwa kita adalah manusia yang egois dan mementingkan diri sendiri. Ketika kita menangis kita akan berfikiran.. "duh ayahku sudah tiada.. kemana lagi aku harus menggantungkan nasibku, siapa yang akan membayar sekolahku, kenapa aku masi semuda ini harus menjadi tulang punggung keluarga?…akan banyak lagi yang akan ditangisi.". Pada dasarnya, sikap itu mencerminkan dan merealisasikan keegoisan kita. Kenapa kita menangisi nasib ayah kita yang sudah meniggal dengan membayangkan kepentingan diri kita? bukannya keajiban seorang anak yang sholeh mendoakan ayahnya yang sudah meniggal? atau bahkan mengurusi segala kebutuhan dan keperluan proses pemakaman. Sebagian dari kita malah melakukan pembenaran untuk idak memandikan/mengafani dengan alasan sedang berduka cita, dan menyerahkan segala urusan pemakaman kepada ustad/ lebai etc.

Ilustrasi peristiwa pola pikir, tangisan diatas sesungguhnya tidak akan terjadi bila kita telah mengimplementasikan sifat sabar dalam diri kita. Bukan kah Allah mengajarkan kita untuk melafazkan "Innalillahi wainna illaihi rojiun" yang artinya al; "sesungguhnya milik Allah akan kembali lagi kepadaNya". Lanjutan dari kajian sabar adalah ikhlas, yang tentunya akan kita bahas pada sesi berikutnya..

 

(may day) dan cara berfikir kebanyakn bangsa ku…

Sunday, May 6th, 2007

Cara  berifikir apa pengusaha:
Saya adalah kapitalisme, dan karyawan saya adalah baut-baut kapitalisme. Saya akan selalu ingin memberbanyak pundi-pundi kekayaan saya dengan memprkatekan prinsip ekonomi. Saya akan mencari untung sebanyak-banyaknya dengan menggunakan modal seminim-minimnya. Realisasi prinsip ekonomi saya akan menekan upah buruh, saya akan memotong upah lembur, menggunakan buruh kontrak (out sourcing). Toh bila saya melakukan efisiensi dibidang lain tidak mungkin, karena bisnis dinegeri ini banyak transaksi yang gak ada post nya dalam aturan akutansi sleain pajak yang emang mahal???

Cara  berifikir aparat birokrasi pejabat pemerintah:
Saya adalah penguasa, tanpa saya ekonomi tidak akan berjalan, saya akan menekan seminim mungkin upah buruh, akan saya jadikan andalan untuk menarik investor asing. Lakukan pungutan selain pajak resmi terhadap investor untuk menambah penghasilan saya selain gaji saya yang sama dengan UMR.

Cara berfikir buruh :
Kerja mah kerja-kerja aja… kalo perlu malas-malasan… mending di pabrik dari pada jadi sales ato balik kampung jadi petani….huh… hidup kok susah ya?

Cara berfikir mahasiswa :
1. Saya adalah harapan bangsa, perubahan bangsa adalah ditangan saya. Saya harus memperjuangkan nasib kaum tertindas.
2. Saya gak peduli ama nasib bangsa ini, cepat-cepat tamat cari kerja dan berharap gaki gede.
3. Gak peduli….

Kapitalisme(dongeng filem india)

Sunday, May 6th, 2007

Tulisan ini, terinsipirasi dari pembicaraan saya dengan abang saya,  seorang teman yang baru saya kenal beberapa hari ini (Miss P**), seorang Adin*** (one of my tutor on biz) kejadian sehari-hari yang saya alami sebagai seorang yang berusaha hidup dengan cara berwiraswasta, serta resume (sebelum menjadi buku)  hakim yang adil bernama dinar. Walaupun tulisan ini tidak ada hubungannya langsung terhadap referensi orang-orang tersebut, tapi semangat, pola hidup, cara berfikir serta tindakan dan sikap merekalah mencoba saya untuk menulis.

Kapitalisme  (dongeng film India)
Gw ingat dalam pelajaran sejarah jaman gw masi SMP, ketika Soekarno seorang founding father negara ini behasil memproklamirkan kemerdekaan negara Republik Indonesia bersama teman-teman seperjuangannya, satu hal yang mereka takutkan terhadap masa depan bangsa yang masih baru ini adalah kapitalisme. Hal ini sudah terlihat dari kelakuan dan sikap politik para perintis kemerdekaan ini, walaupun Ir Soekarno, MR Supomo,  ataupun Muhammad  Yamin dalam usulan tema (rancangan) dasar negara mengalami perbedaan namun ke dipengaruhi oleh latar belakang, pendidikan, agama, budaya, aliran politik dan variabel lain yang melekat pada ketiga tokoh bangsa ini) namun pada dasarnya, semangat nasionalisme mereka sangat anti kapitalisme.

Pada dasarnya kapitalisme adalah bentuk baru dari kolonialisme, dari metode, cara dan prilaku para aktor serta maksud yang terselubung dibaliknya. Analogi sederhananya adalah kolonialisme badan sedangkan kapitalisme adalah rohnya.Adalagi istilah imperialisme, yang inti dari  ketiga kata tersebut adalah bentuk-bentuk penjajahan dari pemodal besar terhadap rakyat jelata.

Saat ini keterketakutan para founding father negara kita sudah nyata-nyata terbukti. Kita tentu masih ingat jaman orde baru, ketika ekonomi kita mulai bangkit, salah satu andalan diplomasi dan negoisasi pemerintah kita pada saat itu menawarkan upah buruh yang murah kepada para investor asing. Pada saat itu kebebasan berbicara , kebebasan ber-organisasi serta demokrasi yang dibelunggu menjadikan para buruh ataupun pekerja tidak dapat berbuat banyak. Keberpihakan pemerintah pada pemilik modal baik asing maupun lokal menjadikan pertumbuhan ekonomi menjadi seolah-olah  cemerlang. Semuanya berdasarkan analisa ekspor, impor, pendapatan perkapita atau para jagoan ekonomi negeri ini menyebutnya dengan ekonomi makro. Parameter ukuran berkutat pada point-point ekonomi makro tersebut selain kekuatan kapital ekonomi dengan istilah cadangan rupiah dll yang ada di BI. Nyatanya, dengan kelakuan seorang MR SOROS, habislah satu negara..

Ketika negara kita mulai berbenah dari keterpurukan ekonomi, dengan meminjam duit dari IMF, ternyata IMF menyarankan hal2 yang diluar harapan. Dengan harga rupiah yang anjlok, menjadikan nilai saham hancur-hancuran mereka meng-haruskan badan-badan usaha negara dijual kepada pihak asing yang tak lain bagian dari mereka.

Fenomena imprealisme, kapitalisme, dan kolonialisme semakin kasat mata, kalau kapitalisme adalah bentuk penjajahan ekonomi oleh pemodal kuat (dalam hal ini peroaranga atau swasta) tampaknya bukan itu yang terjadi di Indonesia. Melain kan sudah kebentuk imperialisme atau kolonialisme. Penguasaan saham saham perusahaan blue chip yang ada di negara kita dikuasai oleh orang asing. Mungkin kita cuma tau Temasek holding co yang menguasai saham indosat. Tapi tahukah kita kalau temasek itu adalah BUMN nya singapura? artinya negara kita secara tidak langsung telah dikuasai oleh negara kecil???

Menganalogikan alinea2 diatas dengan Tuan Takur (artinya tuan tanah, Takur = Juragan) dalam dongeng filem india adalah suatu hal yang amat sangat hampir mirip. Tuan Takur secara fisik adalah seorang yang kecil, buruk rupa, dengan kapital yang kuat melawan rakyat jelata yang kuantitasnya jauh lebih banyak. Tuan Takur selalu diposisikan sebagai orang yang maruk, tamak, suka menindas rakyat kecil, memanfaatkan aparat korup dalam menjalankan bisnisnya. Tapi kita semua tau ending dongeng film india ini selalu happy. 80% filem india tak lepas dari kisah ini, namun hampir semua penonton menikmatinya, dan filem india selalu tak kekurangan peminatnya. Kenapa? karena penonton (notabene kita) selalu memposisikan diri  sebagai bangsa yang tertindas, namun yang membuat kita menjadi lemah adalah, kita selalu berharap endingnya ada seorang Jaka Tingkir, atau RAtu Adil yang memberesi segala sifat tuan Takur tanpa pernah befikir untuk menjadi si Jaka Tingkir ato Ratu Adil.

Menjadi Jaka Tingkir, Ratu Adil adalah orang yang akan dicatat dalam sejarah kehidupan bangsa ini. Adalah hal yang fenomenal bila seluruh bangsa ini merubah cara berfikirnya, tidak lagi menjadi rakyat jelata. Tapi menjadi Ratu Adil ataupun Jaka Tingkir. Tentu aneh donk cerita nya???

Intinya kita mo jadi Jaka Tingkir ato Rakyat Jelata????