Tulisan ini, terinsipirasi dari pembicaraan saya dengan abang saya, seorang teman yang baru saya kenal beberapa hari ini (Miss P**), seorang Adin*** (one of my tutor on biz) kejadian sehari-hari yang saya alami sebagai seorang yang berusaha hidup dengan cara berwiraswasta, serta resume (sebelum menjadi buku) hakim yang adil bernama dinar. Walaupun tulisan ini tidak ada hubungannya langsung terhadap referensi orang-orang tersebut, tapi semangat, pola hidup, cara berfikir serta tindakan dan sikap merekalah mencoba saya untuk menulis.
Kapitalisme (dongeng film India)
Gw ingat dalam pelajaran sejarah jaman gw masi SMP, ketika Soekarno seorang founding father negara ini behasil memproklamirkan kemerdekaan negara Republik Indonesia bersama teman-teman seperjuangannya, satu hal yang mereka takutkan terhadap masa depan bangsa yang masih baru ini adalah kapitalisme. Hal ini sudah terlihat dari kelakuan dan sikap politik para perintis kemerdekaan ini, walaupun Ir Soekarno, MR Supomo, ataupun Muhammad Yamin dalam usulan tema (rancangan) dasar negara mengalami perbedaan namun ke dipengaruhi oleh latar belakang, pendidikan, agama, budaya, aliran politik dan variabel lain yang melekat pada ketiga tokoh bangsa ini) namun pada dasarnya, semangat nasionalisme mereka sangat anti kapitalisme.
Pada dasarnya kapitalisme adalah bentuk baru dari kolonialisme, dari metode, cara dan prilaku para aktor serta maksud yang terselubung dibaliknya. Analogi sederhananya adalah kolonialisme badan sedangkan kapitalisme adalah rohnya.Adalagi istilah imperialisme, yang inti dari ketiga kata tersebut adalah bentuk-bentuk penjajahan dari pemodal besar terhadap rakyat jelata.
Saat ini keterketakutan para founding father negara kita sudah nyata-nyata terbukti. Kita tentu masih ingat jaman orde baru, ketika ekonomi kita mulai bangkit, salah satu andalan diplomasi dan negoisasi pemerintah kita pada saat itu menawarkan upah buruh yang murah kepada para investor asing. Pada saat itu kebebasan berbicara , kebebasan ber-organisasi serta demokrasi yang dibelunggu menjadikan para buruh ataupun pekerja tidak dapat berbuat banyak. Keberpihakan pemerintah pada pemilik modal baik asing maupun lokal menjadikan pertumbuhan ekonomi menjadi seolah-olah cemerlang. Semuanya berdasarkan analisa ekspor, impor, pendapatan perkapita atau para jagoan ekonomi negeri ini menyebutnya dengan ekonomi makro. Parameter ukuran berkutat pada point-point ekonomi makro tersebut selain kekuatan kapital ekonomi dengan istilah cadangan rupiah dll yang ada di BI. Nyatanya, dengan kelakuan seorang MR SOROS, habislah satu negara..
Ketika negara kita mulai berbenah dari keterpurukan ekonomi, dengan meminjam duit dari IMF, ternyata IMF menyarankan hal2 yang diluar harapan. Dengan harga rupiah yang anjlok, menjadikan nilai saham hancur-hancuran mereka meng-haruskan badan-badan usaha negara dijual kepada pihak asing yang tak lain bagian dari mereka.
Fenomena imprealisme, kapitalisme, dan kolonialisme semakin kasat mata, kalau kapitalisme adalah bentuk penjajahan ekonomi oleh pemodal kuat (dalam hal ini peroaranga atau swasta) tampaknya bukan itu yang terjadi di Indonesia. Melain kan sudah kebentuk imperialisme atau kolonialisme. Penguasaan saham saham perusahaan blue chip yang ada di negara kita dikuasai oleh orang asing. Mungkin kita cuma tau Temasek holding co yang menguasai saham indosat. Tapi tahukah kita kalau temasek itu adalah BUMN nya singapura? artinya negara kita secara tidak langsung telah dikuasai oleh negara kecil???
Menganalogikan alinea2 diatas dengan Tuan Takur (artinya tuan tanah, Takur = Juragan) dalam dongeng filem india adalah suatu hal yang amat sangat hampir mirip. Tuan Takur secara fisik adalah seorang yang kecil, buruk rupa, dengan kapital yang kuat melawan rakyat jelata yang kuantitasnya jauh lebih banyak. Tuan Takur selalu diposisikan sebagai orang yang maruk, tamak, suka menindas rakyat kecil, memanfaatkan aparat korup dalam menjalankan bisnisnya. Tapi kita semua tau ending dongeng film india ini selalu happy. 80% filem india tak lepas dari kisah ini, namun hampir semua penonton menikmatinya, dan filem india selalu tak kekurangan peminatnya. Kenapa? karena penonton (notabene kita) selalu memposisikan diri sebagai bangsa yang tertindas, namun yang membuat kita menjadi lemah adalah, kita selalu berharap endingnya ada seorang Jaka Tingkir, atau RAtu Adil yang memberesi segala sifat tuan Takur tanpa pernah befikir untuk menjadi si Jaka Tingkir ato Ratu Adil.
Menjadi Jaka Tingkir, Ratu Adil adalah orang yang akan dicatat dalam sejarah kehidupan bangsa ini. Adalah hal yang fenomenal bila seluruh bangsa ini merubah cara berfikirnya, tidak lagi menjadi rakyat jelata. Tapi menjadi Ratu Adil ataupun Jaka Tingkir. Tentu aneh donk cerita nya???
Intinya kita mo jadi Jaka Tingkir ato Rakyat Jelata????