Archive for April, 2007

Cerita Masa Kecil ku (II)

Sunday, April 1st, 2007

Cerita ini, kita lanjutkan… Oh ya, cerita ini sengaja gw bikin gak bersambung, artinya tiap part dari Cerita Masa Kecil ku akan melalui lompatan-lompatan waktu dan kejadian. Cerita ini hanya berdasarkan memori yang kuingat dan teringat secara random dan spontanitas.

Patah tangan
Aku ingat kejadian ini dirumah nenek dari pihak ibuku, saat itu ibuku sedang hamil tua adikku yang paling bungsu. Ya, seperti kebiasaan ibu-ibu pada masa itu atau mungkin masa sekarang dan kebudayaan orang Indonesia pada umumnya, menjelang hari-hari akhir kehamilannya, iya akan merasa nyaman bersama orang tuanya. Begitu juga ibuku, aku, abangku kami semua tinggal dirumah nenek. Sementara ayahku tetap bekerja dikota pesisir pantai timur sumatra dimana kami sekeluarga tinggal. Jarak antara kota tempat nenek tinggal dengan kota kami bermukim adalah sekitar 4 jam perjalanan menggunakan kendaraan pribadi. Aku ingat pada masa itu umurku 5 tahun. Saat itu aku masi TK 0 kecil, kalau tidak salah kejadian itu sekitar bulan January 1984, dan aku lupa pada saat itu emang lagi libur atau emang ibuku meliburkan diriku. Tapi yang aku tau, pada masa itu aku telah sekolah dan aku tidak sekolah karena harus mengungsi kerumah nenek.

Rumah nenek cukup luas, ada sekitar 4 kamar yang sangat luas, dan beberapa ruang yang fungsinya aku tidak mengerti tapi cukup luas. Dizaman kakekku masih hidup dan masih bekerja (kakek ku meninggal ketika aku berumur 3 tahun) , nenek dan kakek ku adalah "induk semang" atau tempat penampungan orang-orang kampungku yang hendak merantau. Menurut cerita ibuku, rumah nenek selalu penuh dengan orang-orang dari kampung yang merantau dan mencari kehidupan baru, sehingga makan pun harus antri. Pada masa itu nenek menanak nasi menggunakan kayu bakar, walaupun telah memiliki dapur dan kompor minyak. Tempat menanak nasi terletak disamping kandang ayam, halaman belakang rumah. Aku senang menemani tante2 ku (adik2 ibu ku) atau nenek ku yang sedang menanak nasi. Aku masi ingat, untuk menyalakan kayu bakar api harus ditiup dulu dengan perlahan  menggunakan pipa, aku sangat suka saat melihat proses meniup2 api pada kayu bakar menggunakan pipa tersebut. Sesekali aku mencobanya, namun tak pernah apinya nyala, sampai mulutku monyong. Halaman belakang rumah nenek tidak begitu luas, tapi cukup rindang. Sekali waktu om ku memetik alpukat dan membuat juice untukku, atau kadang-kadan memetik buah kelapa muda. Ibuku adalah anak tertua, tentunya aku dan abang ku sangat dimanja dirumah ini, karena kami hanya berdua yang imut-imut. Aku dan abangku hanya selisih satu tahun, harus ku akui, abangku adalah cucu favorit. Selain, kulitnya putih bersih, dia juga anak yang manut, patuh dan gak cerewet. Berbeda jauh dengan diriku yang cukup bandel, usil. Selain itu kulitku yang item, dan kaki penuh kudis bekas luka akibat kebandelan ku sendiri mungkin menjadikan alasan diriku terhadap mereka sebagai "maenan" alternatif. Tapi aku gak peduli, karena aku pada masa itu tidak terlalu suka digendong atau dipangku ataupun disuapin makan, karena aku emang bermasalah sama makan.

Tetangga-tetangga nenek ku juga nenek-nenek.. nah lho kenapa bisa?, hal ini karena kakek ku membangun rumah berbarengan dengan teman2 angkatan kerjanya. Hingga rata-rata umur mereka sama. Jadi pada masa itu kalau lagi liburan sekolah aku memiliki banyak teman seumuran dengan ku dan status mereka juga cucu pertama dari setiap keluarga. Aku masih ingat teman- teman kecil ku pada masa itu, disebelah kanan rumah neneku adalah rumah bundo(dari kata bunda bahasa minang), bundo memiliki cucu-cucu Heni, Heri, Heru, Adi. Keempatnya adalah kakak beradik kandung dan Adi yang terkecil. Disebelah rumah bundo adalah rumah nya Farid. Didepan rumah ada Joko, Ian, Utis. Aku lupa nama kakek nenek mereka, karena nenek dan kakek yang kusapa pada masa itu cuma bundo dan ayah. Karena memang kakek-kakek atau nenek- nenek yang ada disekitar rumah nenek ku jarang ku sapa, dan mereka juga sangat alergi dengan diriku. Soalnya aku suka mencuri jambu, pisang atau pun menganggu ayam atau burung peliharaan mereka. Mungkin kalau bisa aku gak boleh bergaul dengan cucu-cucu mereka hehehe…

Ayah dan Bundo adalah kakek dan nenek yang sangat aku hormati, karena keramahan mereka, selain kakek dan neneku sendiri. Cucu-cucunya mereka cuga baek-baek dan aku tidak pernah telibat konflik. Aku sangat suka berkelahi ketika kecil, Joko, Ian, Utis adalah sparing partner ku. Joko, Ian, Utis adalah saudara sepupu seumuran. Pernah suatu ketika aku berkelahi dengan mereka bertiga, gara-gara piring kaleng yang kujadi kan setir-setiran (berpura-pura jadi supir) direbut oleh Joko. Joko kupukul jidatnya, ternyata kedua sepupunya ikut mengeroyok ku. Aku lupa siapa yang menang dalam perkelahian itu, tapi aku ingat kalau pada saat itu aku tidak menangis, dan Ian dan Utis menangis dalam pengeroyokan itu, sedangkan Joko tidak. sepertinya aku memenangkan pertempuran hehehe.

Malam, katika hari H ibu melahirkan, aku masih ingat kejadian tersebut, sekitar abis maghrib ibuku dijemput ambulan. AKu menangis minta ikut sama ibu, bahkan meraung-raung. Tangan dan tubuh kecilku ditahan oleh neneku, anehnya kakak ku tidak ikut menangis ketika ibu h dibawa ambulan kerumah sakit dan meninggalkan kami. Aku ingat pada malam itu aku tidak bisa tidur sama sekali, dan tak henti-hentinya menangis. Neneku membelai rambut ku. Pagi- pagi buta, setelah neneku selesai sholat subuh, begitu pintu depan dibuka aku lari keluar rumah hendak mengejar ambulan tadi malam yang membawa ibuku. Aku berhasil kabur dari rumah tanpa sepengetahuan seisi rumah. Ambulan tidak kudapati, kucoba menelusuri jalan,  dan berharap mengikuti jejak ambulan. Tapi aku bingung sendiri karena sangat banyak jejak bekas ban mobil pada jalan tanah depan rumah nenek. Begitu dijalan aspal jejak tersebut udah gak ada? Nah lho.. aku bingung… kearah mana lagi aku harus jalan?. Akhirnyasetelah berfikir panjang, aku melihat pohon-pohon yang rindang yang terdapat disekitar perumahan rumah nenek. Hari semakin pagi, aku mendengar suara orang-orang dirumah neneku mulai gaduh karena kehilangan diriku. Namaku dipanggil-panggil… putra…putra.. aku gak peduli! Akhirnya aku mendapat akal, aku melihat pohon jambu dihalaman rumah tetangga depan yang cukup tinggi. Jika pohon tersebut aku panjat sampai dahan paling atas, tentunya aku dapat melihat ambulan yang membawa ibuku tadi malam.
Singkat cerita, aku berhasil memanjat pohon tersebut. Bahkan hingga dahan paling atas. Namun aku tidak melihat ambulan kurang ajar tadi malam! Huh! Karena tertutup oleh daun-daun pohon lain yang cukup rindang. Tapi dari posisi tersebut aku bisa melihat kegaduhan yang terjadi dirumah neneku. Tante2 ku dan om2 ku yang hendak berangkat sekolah, kuliah ataupun kerja terlihat panik hehehe..Aku diam saja. Hingga akhirnya seluruh tetangga akhirnya tau kalau aku hilang.. maka mulailah orang-orang mencari ku. Termasuk teman2 kecilku..sangat lucu kejadiannya, dimana aku bisa melihat orang2 yang mencariku tapi orang2 tidak mengetahui keberadaan ku hehehe….Namun Joko berhasil menemukan ku. Anak sialan ini mengetahui keberadaan ku diatas pohon. Dia melihat sendal ku, yang kutinggalkan dibawah pohon. Namun dia tidak memberi tahukan ke yang lain, dia malah mengambil galah (kayu panjang untuk memetik buah2an) dan mulai menyodok-nyodokan kearah diriku. Anak ini, mungkin lebih jahil dari diriku kalau aku pikir-pikir sekarang… Akhirnya aku kehilangan kesimbangan.. aku jatuh…kedubrag….!!! Ketika aku berdiri hendak memukulnya, anehnya tanganku susah digerakan… Aku kaget.. tangan ku patah..ya patah…sangat mengerikan, aku berusaha mengangkat tangan tersebut… namun tangan itu terkulai, aku kaget dan mulai menangis sejadi-jadinya. Tangan ku patah membentuk sudut 90 derajat….orang-orang yang kehilangan diriku mendapati diriku yang tekulai dibawah pohon dengan kondisi yang sangat parah! Joko lari, aku ingat saat itu yang pertama kali mendapati diri ku ialah tante elok (bibinya Heny), beliau menggendongku menuju rumahnya. Tak beberapa lama kemudian, neneku datang menjemput ku. Singkat cerita, aku dibawa kerumah sakit oleh om ku dengan motor. Sebelum sampai kerumah sakit, kami berselisih jalan dengan ayahku yang hendak kerumah nenek. Aku kerumah sakit diantar ayahku. Sesampainya dirumah sakit aku harus dirawat inap. 2 Hari aku dirawat dirumah sakit. Tapi aku sangat bahagia, karena aku bertemu dengan ibuku yang dirawat dirumah sakit yang sama dan bisa melihat adik bayi ku. Aku ingat, hal ini tak lain karena pertolongan seorang suster yang baik, aku mengatakan padanya.. tante, mama putra juga dirumah sakit lagi melahirkan..putra pengen ketemu…dan suster tersebut mendorong rempat tidur untuk menuju ruangan ibuku..

Tangan ku yang patah harus digips… dan aku diberi kain untuk menyandangnya. Aku seolah2 mengendong bayi gara2 tangan patah ini. Aku menyebutnya disemen, karena aku belom ngerti digips.  Setelah 2 hari dirawat diumah sakit, aku boleh pulang. Oh ya, tangan ku yang tangan kiri.

Sesampainya dirumah nenek, aku kembali bermain-maen seperti biasa bersama teman-teman ku. Seperti anak kecil lainya, aku sudah melupakan kebiadaban si Joko, malah aku kembali bermain bersamanya. Pada hari itu Joko mengajak ku untuk mencuri jambu tetangga sebbelah kiri rumah neneku. Ternyata pohon jambu yang hendak kami curi telah dipanen. Akhirnya kami mendapati pohon belimbing dengan buah yang cukup ranum-ranum. AKhirnya Joko yang memanjat pohon tersebut, sedang aku menjaga dan mengumpulkan buah-buahan yang berhasil dia jarah. Semua buah-buahn yang berhasil kami jarah aku simpan digendongan tanganku. Setelah memetik hasil yang banyak kami pun menuju halaman belakang rumah nenek dan siap menyantapnya. Namun, aku lupa kalo belimbing tersebut tenyata banyak semutnya.. semut-semuttersbut masuk kedalam tangan ku yang digips dan mulai menggigit tangan ku, tanpa bisa kugaruk, rasanya gatal sekali. Dan aku sangat tersiksa, aku pulang kerumah nenek tanpa sempat melahap belimbing hasil curian tersebut. ..