Archive for October, 2005

Menilik kembali, Etika Pers, Poligami dan Rhoma Irama

Monday, October 10th, 2005

Ketika keran reformasi terbuka, iklim keterbukaan pers menjadi suatu euphoria membabi buta dinegeri ini. Konsep kebebasan pers media barat dijiplak bulat- bulat  oleh industri pers kita tanpa diikuti dengan kontrol kebebasan tersebut. Sudah menjadi rahasia umum didalam industri pers utamanya kalangan kuli tinta adanya kelas-kelas tertentu atau ego-ego tertentu diantara mereka ketika mereka meliput berita dilapangan. Kelas terbawah dari kuli tinta tersebut adalah pemburu berita infotaiment. Kebanyakan dari kuli disket kelas infotaiment ini sering tidak memperhatikan sopan santun, tata krama dan etika dalam meliput berita.(Salah satunya menggedor-gedor pintu figur publik yang  tak ingin diwawancara). Kelas inilah yang tidak sadar ataupun  sengaja membuat batasan yang absurd tentang etika pers, area privasi individu (utamanya artis ataupun figur publik), demi mengejar berita. Pertanyaannya adalah adakah training tertentu yang diadakan oleh oragnisasi seperti PWI atau apapunlah nama organisasi yang menaungi kegiatan idnustri seperti ini mengenai UU pers ataupun etika pers?

Trial by pers, itulah yang terjadi pada Bang Haji, seorang tokoh senior maestro dangdut kita. Apa sih yang salah dari beliau ketika ia memutuskan untuk menikah sirri dengan salah seorang biduawanita yang menjadi pilihannya. Apa sih yang salah dalam sebuah rumah tangga ketika seorang suami  memutuskan untuk menikah lagi dan para istrinya menyutujuinya? Sebagian dari kita menjawab, beliau seorang yang munafik, belagak haji tapi…(sensor), atau sebagian kita yang berfaham feminisme wanita itu butuh keadilan dll..dll.

Untuk jawaban pertama yang mengatakan munafik, saya memperkirakan orang yang menjawab hal tersebut adalah orang yang menggunakan platform Islam dalam menyalahkan sang Maestro. Ketika kita menggunakan kata Haji atau dan sebagainya jelas yang dituju adalah Islam, disini kita bisa menilai bahwa orang tersebut adalah orang yang tidak mengerti agama Islam. Karena agama Islam adalah agama yang mensyariatkan poligami, dengan ketentuan-ketentuan yang menyertainya. Salah satunya adalah jika sang suami mampu bertindak adil dan para istrinya (bukan faktor keharusan) bisa menerima. Dalam kasus Bang Haji Roma, kita tidak melihat adanya konflik pada rumah tangganya, baik itu dari istri tua (yang belum diceraikan) dan kita semua tidak tahu apakah beliau bertindak adil atau tidak terhadap para istrinya.

Untuk jawaban kedua, saya tidak bisa menjawab dengan landasan hukum, terus terang saya cuman ingin bertanya, apakah kita adil dalam menghukum, mengadili (trial by pers) sang Maestro hingga mengkibatkan perceraian pada rumah tangganya dan itu menyebabkan beliau sakit, baik hati ataupun fisik. Saya cuman ingin mengingatkan kembali apakah diri kita (pers, pemirsa, kita semua) cocok dengan pernyataan seorang  Aa’ Gym, beliau mengatakan “Kita akan senang bila orang menderita dan menderita bila orang lain senang!”

Menilik kembali, Etika Pers, Poligami dan Rhoma Irama

Monday, October 10th, 2005

Ketika keran reformasi terbuka, iklim keterbukaan
pers menjadi suatu euphoria membabi buta dinegeri ini. Konsep kebebasan pers
media barat dijiplak bulat- bulat oleh
industri pers kita tanpa diikuti dengan kontrol kebebasan tersebut. Sudah
menjadi rahasia umum didalam industri pers utamanya kalangan kuli tinta adanya
kelas-kelas tertentu atau ego-ego tertentu diantara mereka ketika mereka
meliput berita dilapangan. Kelas terbawah dari kuli tinta tersebut adalah
pemburu berita. Kebanyakan dari kuli disket kelas infotaiment ini sering tidak
memperhatikan sopan santun, tata krama dan etika dalam meliput berita.(Salah
satunya menggedor-gedor pintu figur publik yang tak ingin diwawancara). Kelas inilah yang tidak sadar ataupun sengaja membuat batasan yang absurd tentang
etika pers, area privasi individu (utamanya artis ataupun figur publik), demi
mengejar berita. Pertanyaannya adalah adakah training tertentu yang diadakan
oleh oragnisasi seperti PWI atau apapunlah nama organisasi yang menaungi
kegiatan idnustri seperti ini mengenai UU pers ataupun etika pers?

Trial
by pers
, itulah yang
terjadi pada Bang Haji, seorang tokoh senior maestro dangdut kita. Apa sih yang
salah dari beliau ketika ia memutuskan untuk menikah sirri dengan salah seorang
biduawanita yang menjadi pilihannya. Apa sih yang salah dalam sebuah rumah
tangga ketika seorang suami memutuskan
untuk menikah lagi dan para istrinya menyutujuinya? Sebagian dari kita
menjawab, beliau seorang yang munafik, belagak haji tapi…(sensor), atau
sebagian kita yang berfaham feminisme wanita itu butuh keadilan dll..dll.

Untuk jawaban pertama yang mengatakan munafik,
saya memperkirakan orang yang menjawab hal tersebut adalah orang yang
menggunakan platform Islam dalam menyalahkan sang Maestro. Ketika kita
menggunakan kata Haji atau dan sebagainya jelas yang dituju adalah Islam,
disini kita bisa menilai bahwa orang tersebut adalah orang yang tidak mengerti
agama Islam. Karena agama Islam adalah agama yang mensyariatkan poligami,
dengan ketentuan-ketentuan yang menyertainya. Salah satunya adalah jika sang
suami mampu bertindak adil dan para istrinya (bukan faktor keharusan) bisa
menerima. Dalam kasus Bang Haji Roma, kita tidak melihat adanya konflik pada
rumah tangganya, baik itu dari istri tua (yang belum diceraikan) dan kita semua
tidak tahu apakah beliau bertindak adil atau tidak terhadap para istrinya.

Untuk jawaban kedua, saya tidak bisa menjawab
dengan landasan hukum, terus terang saya cuman ingin bertanya, apakah kita adil
dalam menghukum, mengadili (trial by pers) sang Maestro hingga mengkibatkan
perceraian pada rumah tangganya dan itu menyebabkan beliau sakit, baik hati
ataupun fisik. Saya cuman ingin mengingatkan kembali apakah diri kita cocok
dengan pernyataan seorang Aa’ Gym,
beliau mengatakan “Kita akan senang bila orang menderita dan menderita bila
orang lain senang!”

Bom Bali Part 2 dan adanya upaya pengaburan makna JihaD!!

Monday, October 10th, 2005

Bom pecah lagi dibali, harga minyak melonjak naik
nggak kira-kira hingga 2X lipat. MasyAllah..ya Allah cobaan apa lagi ini yang
menimpa bangsaku. Saya tak habis pikir, dan tak habis bingung. Soal bom bali
part II, kalau ditelisik lebih jauh ada kemiripian pola dan waktunya. Saya
bukan mau berandai-andai ataupun apalah namnya yang jelas sok tau melebihi
aparat intel negeri ini. Yang jelas bom Bali part II ini terjadi pada daerah
hiburan dan tepatnya malam minggu. Bukan tidak mungkin yang melakukannya adalah
kelompok yang sama dengan pelaku bom Bali Part I.

 Dugaan Menlu Australia
Alexander Downer soal keterlibatan Jamaah Islamiyah
pimpinan Abubakar Ba’asyir jelas-jelas memojokkan
umat Islam. Hingga saat ini bukti otentik tentang keberadaan organisasi ini tak
pernah jelas. Entah itu jelaspemimpinnya atau jelas organisasinya. Pada
dasarnya penunjukan terhadap organisasi ini secara gamblang adalah memojokkan
umat Islam. Umat Islam garis keras dituduh sebagai pelakunya begitulah
kira-kira kesimpulannya. Mengutip perkataan ketua MPR-RI, beliau yang juga
mantan Ketua PKS mengatakan, kira-kira begini tadi siang di TPI ”sesunguhnya
dengan kejadian bom Bali ini adalah umat Islam yang terzalimi”. Saya sangat setuju
dengan bapak Hidayat Nur Wahid tersebut, soalnya terlepas dari pelakunya kelak
toh kalau tertangkap nota bene adalah seorang oknum yang beragama Islam, maka
akan secara gampang semua telunjuk mengarah kepada umat Islam secara general.
Padahal dalam agama Islam yang saya pelajari, saya tidak pernah mendapatkan
pelajaran tentang jihad melakukan aksi-aksi teror seperti tersebut. Bahkan jika
kita melakukan peperangan jihad dijalan Allah, kita dilarang menzalimi,
anak-anak, orang tua yang tidak melawan, wanita serta kafir yang tidak
melakukan perlawanan, dilarang menebang atau membunuh makhluk hidup.

Perlu kita ketahui, bahwa peraturan perang pertama
yang sangat-sangat manusiawi dalam sejarah manusia adalah peraturan yang
ditetapkan oleh Nabi Muhammad SAW. Tentunya kita masih ingat ketika membaca
kembali sejarah bangsa- bangsa Romawi, ataupun kaum Barbar, Viking ketika
menaklukan daerah jajahannya. Atau paling tidak kita bisa membaca komik Asterik
contoh yang paling sederhana bagaimana bangsa Romawi menaklukan daerah
jajahannya. Walaupun dibumbui dengan cerita-cerita yang konyol namun komik
tersebut menggambarkan realita sosial yang terjadi pada masa itu. Pada masa itu
(Romawi) perang penaklukan terhadap daerah-daerah merupakan perang terhadap
seluruh bangsa bahkan cenderung mengarah kepada pemusnahan suatu
bangsa.Perturan perang yang ditetapkan Nabi tersebut merupakan etika Jihad yang
harus dipatuhi oleh kaum muslimin.

Suatu hal yang sangat menarik untuk disimak selain
aturan jihad tersebut, saat ini mulai kelihatan terjadinya adanya pernyataan
yang mengatakan bahwa jihad yang paling besar (jihad al-akbar) adalah jihad
melawan hawa nafsu mujahadtun nafsi). Sedangkan jihad yang mengangkat senjata
melawan orang kafir hanyalah jihad kecil. Biasanya ungkapan ini disertai dengan
menyitir sebuah hadist Rasulullah SAW, sepulang beliau dari perang badar:

” kita telah kembali dari
jihad yang lebih kecil kepada jihad yang lebih besar.” Para sahabat bertanya;
”Apakah jihad yang lebih besar itu?” Baginda menjawab: ”Jihad melawan hawa
nafsu
.”

Opini tersebut perlu diberi catatan dari beberapa sisi:

Hadist yang dijadikan ;adasan opini diatas “mardud” dinaifkan oleh banyak
ulama hadist, diantaranya Al-Baihaqi, Al-Iraqi dan As-Suyuthi dalam Al Jami’
Ash-Shaghir, dikarenakan seorang perawinya bernama Yahya bi Al-A’la seorang
yang tertuduh sebagai pemalsu hadist seperti yang dijelaskan Ibnu Hajar dalam
Taqrib at-Tahzib. Jadi, pembagian jihad kepada jihad ashghar dan jihad akbar
tidak mempunyai dalil yang kuat. Setelah diteliti lebih jauh lagi oleh Ibn
HajarAl-Asqalani, hal tersebut bukanlah sabda nabi melainkan perkataan Ibrahim
bin Ablah. Jadi bisa disimpulkan bahwa hadist tersebut adalah da’if, atau tidak
bisa dipakai.

 Pada dasarnya opini yang
berkembang seperti itu adalah paham-paham sekuler yang menginginkan adanya
pengaburan makna dan arti sebenarnya jihad, yang intinya menjauhkan umat Islam
dari ajaran Islam itu sendiri. Sama ketika salah satu tokoh cendekiawan
Indonesia yang pernah mengatakan “ Islam Yes Partai Islam no” banyak dipahami
oleh kaum sekularis sebagai pernyataan yang mendukung paham mereka. Padahal
(mungkin) maksud sang cendekiawan yang paham betul dengan kondisi umat Islam
bahwa hingga saat ini(itu) umat Islam belum mampu bersatu dan membentuk sebuah
partai.

 Balik kepersoalan jihad,
pada dasarnya jihad ialah membela agama Allah, yang pada dasarnya dengan cara
seperti berperang atau mengorbankan harta dan nyawa, namun jihad juga mempunyai
etika dan aturan yang harus dilakukan oleh para pelakunya.
Jadi tidak seperti melakukan bom pada
public area seperti yang kita lihat. Wallahualam…

Hemat dalam pandangan Islam

Sunday, October 9th, 2005

Allah akan memberikan rahamt kepada
seseorang yang berusaha dari yang baik, membelanjakannnya dengan pertengahan,
dan dapat menyisihkan kelebihan untuk menjaga pada hari dia miskin dan
membutuhkannya. (Hr. Muslim dan Ahmad)

Kita
sudah merasa telah bekrja keras dan menjemput rezeki. Siang dan malam kita
pertaruhkan untuk berusaha. Tapi dalam praktiknya kita tidka pernah merasa
cukup, slalu kekurangan, ujung-ujungnya paraktek gali –lubang- tutup lubang
seakan menjadi lingran stena atu siklus yang tak pernah habisnya dalam
kehidupan.

 Bekerja dan berusaha adalah
pekerjaan yang muliadidalam agama Islam, bahkan Allah sangat mencintai
orang-orang yang senang bekerja dan berusaha. Azzumar 39

Katakanlah: “Hai kaumku, bekerjalah
sesuai dengan keadaan mu, sesungguhnya aku akan bekerja (pula), maka kelak kamu
akan mengetahui,

 Selain itu Rasulullah Saw
bersabda :

“Barang
siapa yang pulang kerumahnya disore hari merasakan kelelahan karena kedua
tangannya bekerja disiang hari , maka pada malam itu ia mendapat ampunan Allah

( HR
Thabrani)

Ali Bin Thalib
pernah mengatakan

Bekerjalah
kamu unutk dunia seolah- olah kamu hidup untuk selamanya, dan beribadahlah kamu
seolah –olah engkau akan meninggal esok hari.

Merujuk dari
hadist dan ucapan sahabat tersebut jelas kiranya bahwa bekerja keras mencari
nafkah dan tidak menjadi beban orang lain merupakan karakter kuat seorang
muslimin sejati. Persoalannya kenapa kitatelah bekerja keras teatapi tidak
pernah cukup?

1 Meingkatkan produktifitas

Islam mengajarkan
bekerja merupakan kemuliaan. “Allah sungguh sangat mencintai orang yagn
berjerih payah dan mencari yagn halal” Hr Dailami. Dengan kata lain berangkat
pagi pulang petang mencari nafkah untuk keluarga merupakan jihadnya orang
muslim.

 “ sesungguhnya Allah snagat mencintai hambanya
yang bekerja, Barang siapa yang mencari nafkah untuk keluarganya, maka ia
laksana seorang yang bertempur dimedan
perang yang membela agama Allah”

Hadist tersebut
merupakan bukti penghargaan Islam terhadap mereka yang senang bekerja dan
menjauhi sikap malas. Ringkasnya suatu bukti kemuliaan Islam ialah agama ini
sangat melarang umatnya untuk bersikapa malas, dan Islam menyuruh umatnya untuk
menjadi umat yang produktif dalam berkerja , berusaha dan beribadah. In
merupakan bukti bahwa Islam adalah agama yang universal.

2. Meningkatkan budaya Hemat.

Selain
meningkatkan produktifitas, Islam mengajarkan umatnya untuk terbiasa berpola
dan budaya hidup hemat, dalam surat Lukman ayat 34, ….dan tidak seorangpun
yang apat mengetahui ( dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok.

Konteks ini
ditegaskan lagi dalam alquran di Alfurqon 67, “dan orang-orang yang apabila
membelanjakan hartanya, mereka tidak berlebih-lebihan, tidak pula kikir, dan
adalah ditengah-tengah antara yang demikian.”

Dari ayat diatas
dapat kita garis bawahi budaya hemat ternyata merupakan aplikasi dari perintah
Allah yang terdapat dalam Alquran.

  1. hemat sebagai upaya menyimpan kebutuhan setelah
         kebutuhan primer terpenuhi. Hemat bukan berarti kikir, tetapi merupakan pertengahan
         antara boros dan kikir seperti yang diungkap oleh Alfurqon 67. Rasulullah
         pernah berdialog dengan Jabir, “ Mengpaa engkau berlebih-lebihan wahai
         Jabir? Jawab jabir, “Wahai ya Rasulullah, Apakan dalam wudhu tidak boleh
         berlebih-lebihan?, Rasulullah menjawab “Ya, janganlah kamu
         berlebih-lebihan ketika wudhu, meskipun engkau berada disungai yang
         mengalir”
  2. Hemat Merupakan sebagai modal kemaslahatan
         generasi setelah kita. Rasulullah bersabda “ Sesungguhnya engkau
         meninggalkan ahli waris mu dalam keadaan kaya itu lebih baik dari pada
         engkau meninggalkan mereka dalam keadaan miskin. Mereka menerima kecukupan
         dari orang lain. Mungkin orang lain memberinya atau mungkin orang lain menolaknya.
         Sesungguhnya tidaklah engkau memberikan nafkah dengan ihklas karena Allah,
         kecuali engkau mendapat pahala karenanya.( HR Almutaffaq’allaih)
  3. Hemat merupakan bentuk dari kedekatan diri
         kepada Allah

60 tahun ternyata kita belum merdeka BBM mahal oh BBM

Sunday, October 9th, 2005

Sudah lebih hampir 60 tahun negeri kita secara merdeka secara fisik.  Namun arti kemerdekaan secara ekonomi, budaya, sosial bahkan agama dan pendidikan tidak  pernah dikecap anak bangsa ini secara merata. Bapak bangsa kita adalah sosok pemimpin yang sangat membenci kapitalisme dan imperialisme. Hampir dalam setiap pidato dan tulisannya ia mengungkapakan hal tersebut. Keterketakutannya akan timbulnya neo imperialisme dan neo kapitalisme telah menjadi kenyataan saat ini. Bangsa kita kembali terjajah dengan cara yang lebih halus.

Keberadaan ekonomi yang morat marit ditandai dengan jatuhnya nilai rupiah pada tahun1997 memberi dampak yang cukup signifikan terhadapa perekonomian negara ini. Dengan kedok memberi bantuan, institusi internasional yang bernama  IMF memberi hutang dengan berbagai syarat yang mengikat kepada Indonesia. Privatisasi, deregulasi, strukturisasi dan lainnya dengan berbagai macam syarat yang inti nya mengambil alih BUMN terbaik negeri ini beserta sumber daya alamnya. Tak sulit memberi contoh untuk kasus ini, Indosat, Freeport, Caltex.(Indosat dengan alasan yang tak jelas dijual ke pihak asing, sedangkan dua perusahaan berikutnya adalah representasi kapitalisme). Kenyataan yang sulit dipahami, adalah ketika para pemimpin dan pembuat keputusan negeri ini dengan patuhnya bahkan menyokong skenario IMF tersebut yang pada dasarnya adalah AMERIKA.

Sebenarnya ada sebuah skenario besar yang diciptakan negara-negara maju, dalam hal ini Amerika, untuk mempertahankan hegemoni kekuasaanya dalam bentuk neo-kapitalis yang ditakutkan oleh Ir Soekarno. Menurut John Perkins (penulis buku Confessions of an Economic Hit Man), Amerika menggunakan utang sebagai senjatanya untuk memperlemah posisi negara-negara berkembang, termasuk dalam hal ini Indonesia. Dengan memberikan hutang diluar kemampuan negara kita ditambah para pejabat yang korup, posisi tawar negara ini semakin melemah ketika terjadi negoisasi bisnis. Contoh sederhana adalah kasus blok Cepu yang baru-baru ini cukup menghebohkan. Intervensi pemerintah Amerika terhadap negoisasi bisnis, bahkan sang duta besar Amerika harus bergerilya untuk menekan para pejabat kita, termasuk didalamnya Presiden.
Privatisasi pendidikan, BUMN diikuti kenaikan harga minyak adalah efek mikro dari sebuah skenario besar tersebut. Semakin mahalnya pendidikan tentunya memperburuk SDM negeri ini, suatu ironisasi ketika murahnya bayaran SDM kita  menjadi daya tawar negoisator pemerintah kita agar negara lain mau berinvestasi.

Privatisasi BUMN rating atas yang mengakibatkan semakin berkurangnya cashflow pemerintah akan semakin memiskinkan negara ini, diikuti kenaikan harga minyak yang menyulut tingkat inflasi dan mengakibatkan rendahnya daya belia masyarakat Indonesia disertai dengan semakin jelasnya perbedaan antara kaya dan miskin. Penangkapan Ustad Abubakar Ba’asyir yang dianggap sebagai biang teroris adalah bagian dari penjajahan ideologi, yang notabene hingga saat ini tak pernah terbukti sebagai pelaku teroris. VOA ataupun MTV, penyebaran agresi budaya  yang paling efektif.

Meurut John Perkins ada tiga skenario yang dijalankan oleh negara Amerika dalam melenggengkan hegemoni kekuasaannya. Pertama ialah melalui cara ekonomi, budaya, politik serta ideologi.  Skenario pertama inilah yang tampaknya sedang berjalan diIndonesia. Dengan menguasai media massa, budaya, politik dan ideologi tentunya akan mudah memasukan paham-paham mereka. (Amerika). Jika skenario ini gagal maka akan ditempuh cara kedua the jackals (kumpulan srigala) dalam hal ini CIA. Tugas mereka ialah assasination(pembunuhan) terhadap kepala negara yang tidak patuh atau menggoyang pemerintahan. Kita bisa lihat bebrapa waktu lalu sempat terjadi gelombang demonstrasi di Iran, walaupun pada akhirnya rakyat Iran sadar. Terkahir adalah penyerangan terhadap wilayah kedaulatan negara dengan alasan yang dibuat-buat. Namuns tampaknya 2 skenario terkahir kecil kemungkinan terjadi pada negara kita ini. Hal ini karena negara kita merupakan sasaran easy target, artinya dengan plan A saja sudah tertaklukan, jadi Amerika tak perlu buang-buang energi seperti di Irak.